Selasa, 20 November 2018

Perajin Gamelan Ponorogo Masih Eksis!


Di Ponorogo terdapat sentra pembuatan gamelan secara tradisional, tepatnya di Desa Paju, Kecamatan Ponorogo, 1 kilometer arah selatan dari Alun-alun Ponorogo. Menemukannya pun tidak sulit, karena sentra pembuatan gamelan ini berada persis di pinggir jalan raya

Ada beberapa bahan yang dipakai untuk pembuatan gamelan, dan dari bahan inilah bisa menentukan kualitas, semakin bagus bahan akan semakin mahal harga yang diberikan.

Untuk bahan drum bekas adalah harga yang paling murah, sekitar 95-100 an juta. Mula-mula drum bekas dipotong menjadi lembaran seperti plat, baru dibentuk pola-pola gong atau alat gamelan lainnya.

Untuk bahan plat besi dengan divariasi kuningan dihargai 150-an juta rupiah, dan harga inilah yang paling sering diambil pemesan.
Untuk bahan kuningan dihargai 350-an juta, sedangkan bahan perunggu bisa tembus 1 milyar rupiah.

Mbah Kusnan seorang perajin gamelan,  sejak 1963 sudah menggeluti membuat gamelan Jawa, dan ketrampilan ini  ia dapatkan dari bapaknya yang juga dulunya perajin. Ada 15 orang pekerja yang bekerja di bengkel gamelannya, yang setiap orangnya mempunyai ketrampilan masing-masing. 

Ada yang bertugas memotong drum untuk dibuat lembaran-lembaran, ada yang mengelas, menggerinda, ada spesialis kuningan, ukiran kayu, tukang cat, tukang gendang, dan lainnya.

Plat besi di potongi sesuai pola, direkatkat dengan las, dan ditengahnya dikasih kuningan, karena bahan kuningan akan menghasilkan nada yang bagus yang kualitasnya dibawah perunggu.

Mereka sudah ahli dalam menentukan nada, insting mereka yang bekerja tanpa peralatan canggih untuk menentukan tinggi rendah, tangan dan telinga mereka luar biasa peka.Tak hanya pasar lokal yang dilayani, Sumatra, Jakarta, Solo, Sulawesi, bahkan hingga ke Malaysia.
 
Kayu penyangga gamelan di ukir dan dicat berwarna merah, atau tergantung pesanan, bahan kayu yang sering dipakai adalah angsana. mahoni, dan kadang juga jati . Untuk bahan jati harganya akan lebih mahal dibanding kedua kayu yang pertama.

Bahan pembuatan gamelan, lanjut Mbah Kusnan, sekarang juga lebih mudah dibandingkan dulu. Kalau dulu menggunakan drum bekas, sekarang bisa langsung menggunakan besi atau kuningan dan bisa dipesan dari penjual.

Satu perangkat gamelan, terdiri dari perangkat gong, kenong, kethuk, bonang, gambang, rebab, barung, slenthem, saron, glenjer, pekeng, gempul, kendang, siter dan demung. Biasanya digunakan saat karawitan maupun acara kebudayaan tradisional lainnya


Sumber :
https://www.cendananews.com/2017/01/gamelan-buatan-mbah-kusnan-di-ponorogo-tembus-pasar-malasyia.html



Senin, 19 November 2018

Jenang Teguh Rahardjo


Jenang lengket atau biasa juga disebut dodol, bagi sebagian masyarakat, khususnya di Jawa menjadi salah satu sajian utama dalam menyambut hari-hari penting, misalnya Lebaran, pertunangan maupun pernikahan. Pada acara pertunangan, menyajikan jenang untuk tamu yang datang merupakan tradisi turun-temurun yang masih dijaga dengan baik.

Jenang memang selalu diidentikkan dengan kota Kudus dan Garut, tapi siapa yang sangka jika kota kesenian seperti Ponorogo juga memiliki tradisi memproduksi jenang ini. Di Ponorogo, jenang yang dijual merupakan jenang tradisional yang dibuat secara turun temurun, sehingga rasa dan aromanya begitu khas. Bahkan, saat ini jenang tradisional ini makin dilirik oleh para pegiat wirausaha dengan menampilkan kemasan yang lebih menjual dan menarik. Yakni Jenang Teguh Rahardjo
Jenang Teguh Rahardjo tidak menggunakan pengawet, namun produk olahannya biasanya bisa bertahan 6 bulan. Di tokonya terdapat juga tester untuk para pengunjung agar bisa mengetahui rasa jenangnya.
Terletak di Jalan Wibisono, Kepatihan, Ponorogo. Pengunjung bisa memilih sendiri jenang yang di sukai, mulai dari rasa original, hingga macam macam kreasi buah dan sayur, diantaranya kentang, waluh, pisang, nanas, sirsak, coklat dan kurma. Satu pack jenang dihargai sekitar Rp 17.500,00. Selain Jenang, ada juga Wajik, olahan makanan berasal dari ketan bercita rasa manis. Dibandrol dengan harga Rp. 30.000,00. Disini juga menyediakan rengginan, keripik gadung, keripik pisang, madu mongso dan abon.
Untuk hari raya atau hari lebaran dan liburn omzet yang di dapat semakin tinggi, karena biasanya pengunjung membeli untuk oleh – oleh kembali ke kota. Cita rasa yang khas menjadikan jenang Teguh Rahardjo menjadi primadona.
“Dalam menjaga cita rasa jenang, saya menggunakan alat tradisional. Namun demikian, penggunaan alat modern juga perlu dan penting untuk meningkatkan efisiensi dalam memproduksi. Untuk resep sendiri, kami menggunakan resep turun-temurun dari keluarga.” Ungkap Sri Harijati, pemilik perusahaan Jenang Tradisional Ponorogo Teguh Rahardjo





Jenang Mirah yang legendaris




Jenang Mirah adalah makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan, gula jawa, dan santan. Makanan satu ini sekilas hampir mirip dengan dodol, namun teksturnya lebih lembut dan rasanya sangat khas. Jenang Mirah ini merupakan makanan tradisional yang cukup terkenal di Ponorogo dan dijadikan salah satu oleh – oleh khas di sana.

Asal Jenang Mirah

Makanan ini dinamakan Jenang Mirah karena yang pertama kali membuat makanan ini adalah Bu Mirah, yaitu seorang warga Desa Josari,Kecamatan Jetis, Ponorogo. Awalnya bu mirah menjajakan jenang ini secara berkeliling dari desa, pasar, bahkan di stasiun. Karena rasanya yang khas dan nikmat, Jenang Mirah ini mulai dikenal dan disukai oleh masyarakat. Hingga kini Jenang Mirah tidak lagi dijajakan secara berkeliling, namun berkembang menjadi industri rumahan. Tidak hanya sampai disitu saja, Jenang Mirah juga dikenal sebagai salah satu makanan khas dan oleh - oleh khas dari Ponorogo, Jawa Timur.

Keistimewaan Jenang Mirah

Jenang Mirah ini sedikit berbeda dengan olahan jenang pada umumnya. Jenang Mirah ini memiliki tekstur yang lembut dan terlihat lentur namun tidak lengket. Selain itu Jenang Mirah ini juga di buat dengan cara tradisional dengan bahan khusus dan tanpa menggunakan bahan pengawet. Sehingga sangat aman untuk dikonsumsi.

Pengolahan Jenang Mirah

Jenang Mirah ini terbuat dari bahan seperti beras ketan, gula jawa, dan santan. Dalam proses pembuatan Jenang Mirah ini cukup tradisional, bahan – bahan tadi diolah menjadi suatu adonan khusus kemudian dimasak menggunakan tungku dan kayu bakar. Selain lebih irit, memasak menggunakan kayu bakar ini juga tidak mengubah rasa asli dari jenangnya. Adonan tersebut dimasak hingga terlihat kecoklatan dan menjadi jenang. Setelah jenangnya sudah jadi, kemudian didinginkan dan dikemas.

Cita Rasa Jenang Mirah

Jenang Mirah ini memiliki cita rasa yang sangat khas. Perpaduan gula jawa dan santan dalam Jenang Mirah ini menghasilkan rasa manis yang khas. Selain itu teksturnya yang lembut dan sedikit kenyal memberikan sensasi tersendiri saat kita menikmatinya. Jenang Mirah ini sangat cocok untuk dinikmati sebagai cemilan atau dijadikan oleh – oleh saat anda berkunjung ke sana.

Tempat Kuliner Jenang Mirah

Tokonya berada di Jl. Kh Moh. Mansyur No. 21, Josari Wetan, Josari, Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63473. Buka mulai pukul 06.00 – 20.00. Tempatnya strategis dan lahan parkirnya luas. Serta dilengkapi dengan ruang tunggu dan mushala. Jenang Mirah ini biasanya dijual dalam berbagai bentuk kemasan dan setiap jenis biasanya memiliki harga yang berbeda. Harga yag ditawarkan mulai sekitar Rp. 7.500,00 – 10.000,00. Bagi anda yang berkunjung atau berwisata di Ponorogo, tentu kurang lengkap rasanya bila belum membawa pulang makanan satu ini. Jenang Mirah ini biasanya bisa bertahan tiga sampai tujuh hari, walaupun tidak menggunakan bahan pengawet sehingga sangat cocok untuk dijadikan oleh – oleh atau menemani perjalanan anda. Selain menyediakan jenang, disini juga terdapat tempe keripik, sale pisang, tiwul, snack ringan dan masih banyak lagi. Ayo mampir ke jenang Mirah!


sumber : http://www.negerikuindonesia.com/2015/08/jenang-mirah-oleh-oleh-khas-dari.html 

SATE AYAM PONOROGO




Sate Ponorogo adalah jenis sate yang berasal dari kota Ponorogo, Jawa Timur. Daging ayamnya sendiri sangat empuk dan bumbunya meresap. Sate Ponorogo berbeda daripada Sate Madura yang populer. Perbedaannya adalah pada cara memotong dagingnya.  Dagingnya tidak dipotong menyerupai dadu seperti sate ayam pada umumnya, melainkan disayat tipis panjang menyerupai fillet, sehingga selain lebih empuk, gajih atau lemak pada dagingnya pun bisa disisihkan.

Ciri khas lainnya dari sate Ponorogo adalah sebelum dibakar, ayamnya diberi bumbu terlebih dahulu sehingga bumbu bisa meresap. Bumbu kacangnya juga berbeda apabila dibandingkan dengan bumbu kacang yang digunakan pada sate Madura. Bumbu kacang pada sate Ponorogo teksturnya halus dan rasanya lebih legit. 

Perbedaan berikutnya adalah sate Ponorogo melalui proses perendaman bumbu  agar bumbu meresap ke dalam daging. Sate dibumbui dengan bumbu kecap dan minyak sayur. Setelah bumbunya merata, sate dipanggang di atas pemanggang sate selama kurang lebih 3-5 menit. Alat pemanggangnya terbuat dari “Anglo” yaitu sejenis tungku pemanggang yang panjang terbuat dari tanah liat. Setelah berwarna kecoklatan, semua sate diletakkan di atas piring untuk dibumbui lagi dengan bumbu kacang  dan disantap dengan nasi atau lontong

Selain sate daging ayam ada juga sate usus, kulit, kepala, ceker, calon telur ayam (uritan) dan sate tangkar (tulang rawan/muda). Selain itu, bila tidak dicampur bumbu kacang sate ayam ponorogo tahan disimpan lebih lama, bahkan berhari-hari jika dimasukkan kedalam kulkas.

        Di Ponorogo ada beberapa tempat sentra pembuat serta penjual sate ayam yaitu di Jalan Lawu atau biasa disebut Gang Sate, Desa Setono dan Desa Purbosuman. Daerah jualannya ada disekitar Jalan Gajah Mada, Jalan Jendral Soedirman, dan Jalan Soekarno Hatta atau yang lebih dikenal dengan Ngepos.

     Satu hal lagi, Penjual sate ayam dari jalan Wilis dan purbosuman biasanya mempunyai tempat jualan khusus semacam warung atau rumah makan. Sedang penjual sate ayam dari setono sejak dulu lebih suka menjual sate dengan cara berkeliling atau di kaki lima, meskipun sekarang mulai banyak juga yang sudah membuka tempat berjualan yang tetap.

 Yang perlu diketahui, sate ayam ponorogo ada dua jenis menurut ukurannya. Yang satu dengan irisan daging yang lebih tebal panjang dan lebar sedang satunya lebih tipis dan kecil, dan tentu saja harganyapun berbeda meski sama-sama enaknya.



     Salah satu contoh sate yang terkenal adalah Sate Ayam Haji Tukri Sobikun di Jalan Lawu, sate ini terkenal dengan ukurannya yang Jumbo, bumbunya pun kental dan mantap. Dibandrol dengan harga Rp. 32.000,00 per porsi. Harganya sebanding dengan kualitas dan ukurannya. Banyak yang membawa Sate Tukri ini menjadi oleh – oleh ke luar kota. Sate ini tahan 2 hari tanpa pendingin dan bumbu kacangnya di sendirikan atau dipisah. Sate Tukri sudah terkenal dan bahkan seringkali pejabat dan artis mampir ke sini, seperti Uya Kuya, Presiden Jokowi.

   Yang di daerah Ngepos biasanya lebih murah, namun ukuran satenya lebih kecil, sekitar Rp. 12.000,00 per porsi, begitupun untuk yang sate Setono. Untuk sate tangkar lebih murah, sekitar Rp. 5.000,00 – 7.000,00 per porsi.


Sumber :
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3776788/sate-tukri-diklaim-sate-tertua-di-ponorogo

Garang Asem Ngasinan

GARANG ASEM BU PARTI

Makanan Garang Asem sendiri adalah makanan berbahan dasar ayam yang dimasak dengan sensasi asam dan pedas menyatu dalam kuahnya lantas dibungkus mengguanakan daun pisang.

Tidak hanya garang asem ayam, disini juga tersedia garang asem jeroan bagi kalian yang suka dengan jeroan, kemudian ada lagi garang asem tawon, dan banyak lagi menu yang disajikan. Rasa yang ada di sini tidak ada duanya, rasanya pedas menendang serta membuat kalian bercucuran keringat saat menyantapnya. Proses pembuataanya pun masih menggunakan tungku api tradisional, tidak menggunakan gas dengan itu aroma dan khasnya masih sangat terasa.

Di dalam satu bungkusnya terdapat ayam / jeroan, kuah santan, potongan tomat, cabai dan bumbu lainnya yang sangat khas. Untuk satu porsi garang asem di bandrol mulai Rp. 15.000,00 itu berisi beberapa potong ayam dalam porsinya. Cukup terjangkau kan.

Warung makan Garang asam Bu Parti adalah primadona di Ponorogo. Terletak di jalan Brawijaya, sebelah barat perempatan Ngasinan Jetis. Suasana nyaman dan lesehan membuat pengunjung betah untuk makan di tempat ini. Buka mulai pukul 07.00 – 22.00.

Garang asem Bu Parti sudah sangat terkenal, bahkan banyak kalangan tokoh besar yang mengunjungi warung makan ini, seperti pemain film Negeri 5 Menara, Edhie Baskoro Yudhoyono, Ikang Fawzi dan beberapa orang mancanegara. Yang paling baru ini adalah dikunjungi oleh Presiden RI yaitu bapak Jokowi. Di dalam warungnya terdapat beberapa foto Bu Parti dengan tokoh besar.




Sumber : 
https://bukanrastaman.com/2017/07/26/pedas-nikmat-garang-asem-bu-parti-ponorogo/
https://promisespromisesbroadway.com/garang-asem-bu-parti-ngasinan-jetis-ponorogo/


Dawet Jabung Ponorogo

DAWET JABUNG


                Di Ponorogo ada Dawet Jabung yang berasal dari Desa Jabung, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo. Es Dawet  atau Es Cendol memiliki citra rasa yang khas. Dawet Jabung berisi santan, garam dan gula aren. Kemudian isiannya ada tape ketan hitam, cendol, gempol atau bulatan bola yang berwarna putih  terbuat dari tepung beras, seringkali ada juga yang menambahkan potongan nangka atau pisang.

                Biasanya tersedia juga gorengan untuk menemani dawet, seperti pia-pia, tempe goreng, tahu isi, pisang goreng dan kemplang. Harga yang dibandrol untuk semangkuk dawet Jabung cukup murah, sekitar Rp. 3.500,00 dan untuk gorengannya Rp. 750,00 – 1.000,00 per biji.

                Lokasinya mudah ditemui, sekitar perempatan Jabung atau sekitar 7 km dari Alun – Alun Ponorogo menuju ke arah Selatan, kemudian ke Utara ke desa Jabung. Banyak sekali yang menjual Dawet Jabung, seperti menjadi sentra Dawet di Ponorogo. Jadi jangan khawatir kehabisan atau antri.

Penjual akan memberikan dawetnya kepada pembeli melalui sebuah tatakan. Namun pembeli harus mengambil mangkuknya saja. Karena menurut tradisi, bila seorang pria meminta tatakannya berarti pria itu berniat menyunting penjualnya. Dan bila penjualnya menyerahkan tatakan, berarti penjual bersedia dinikahi. Itu hanya tradisi. Mungkin yang belum pernah mencoba dawet ini awalnya akan mengambil tatakan, dan akan dijadikan gurauan, namun kita hanya perlu mengambil mangkoknya saja.



Mas Ganteng 2019

Selamat hari kamis untuk mas yang punya senyum manis Hii, happy december day🌹 2019 segera berakhir Perjalanan indah kan slalu terukir ...